Sportstourismindonesia – Jakarta Februari 2026 Tahun 2026 menjadi momentum konsolidasi besar bagi dunia olahraga nasional. Dalam silaturahmi bersama media, Selasa (24/2) malam, Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Erick Thohir, memaparkan arah kebijakan strategis Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang menitikberatkan pada pembinaan berjenjang, penguatan ekosistem, hingga jaminan kesejahteraan atlet.
Berbeda dari pendekatan sebelumnya yang lebih terfokus pada event, Kemenpora 2026 mengusung model pembangunan olahraga yang terintegrasi dari hulu ke hilir — mulai dari usia dini, pembibitan talenta, prestasi elite, hingga masa purnatugas atlet.
Fokus Prestasi Multi-Event Dunia
Dalam bidang keolahragaan, target utama tetap tak bergeser: meningkatkan capaian Indonesia di ajang multi-event seperti Olympic Games, Asian Games, dan SEA Games.
Namun, strategi menuju podium kini diperkuat melalui pembinaan yang lebih sistematis berbasis Desain Besar Olahraga Nasional (DBON). Salah satu langkah konkret adalah implementasi 21 cabang olahraga DBON di jenjang pendidikan SD, SMP, hingga SMA.
Khusus untuk tingkat SMA, sekolah akan didorong memilih cabang “Mother of Sport” seperti renang, atletik, dan senam — tiga fondasi dasar pembentukan motorik dan daya saing atlet.
Langkah ini dinilai krusial untuk memperluas talent pool nasional sekaligus membangun kultur kompetitif sejak dini.
Dana Pensiun Atlet, Menuju Sistem yang Lebih Berkeadilan
Salah satu sorotan penting adalah rencana program dana pensiun atlet. Selama ini, isu kesejahteraan atlet pasca-karier kerap menjadi perhatian publik.
Menpora menegaskan bahwa formulasi skema dana pensiun masih digodok agar tepat sasaran dan berkelanjutan. Skema ini diharapkan menjadi bentuk penghargaan negara kepada atlet yang telah mengharumkan nama bangsa, sekaligus memberikan kepastian masa depan.
Jika terealisasi optimal, kebijakan ini akan menjadi tonggak penting dalam reformasi tata kelola olahraga nasional.
Ekosistem Olahraga: Satgas dan Sinergi Lintas Kementerian
Tak hanya berbicara prestasi, Kemenpora juga memperkuat ekosistem olahraga melalui kolaborasi lintas kementerian. Kerja sama dengan Kemendagri dan Kementerian UMKM telah menghasilkan Surat Keputusan Bersama (SKB) untuk pengelolaan aset olahraga di daerah, termasuk pembentukan satuan tugas (satgas).
Sementara dengan Kementerian Pariwisata, Kemenpora mendapat sembilan job desk strategis yang membuka peluang sport tourism sebagai mesin ekonomi baru berbasis event dan destinasi olahraga.
Model kolaboratif ini menunjukkan bahwa olahraga kini ditempatkan bukan sekadar aktivitas kompetitif, tetapi juga instrumen pembangunan ekonomi dan sosial.
Kepemudaan dan Olahraga, Satu Tarikan Napas
Meski berfokus pada olahraga, Kemenpora tetap menjaga kesinambungan dengan agenda kepemudaan. Program seperti Youth Camp dan Indonesia Youth Summits dirancang untuk membentuk karakter kepemimpinan generasi muda, yang pada akhirnya juga menopang prestasi olahraga nasional. Bagi Menpora, olahraga dan kepemudaan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.
Media sebagai Mitra Strategis
Di akhir pertemuan, Menpora menekankan pentingnya peran media sebagai mitra strategis dalam membangun optimisme publik terhadap program-program olahraga nasional.
Dengan peta jalan 2026 yang lebih sistematis dan terintegrasi, Kemenpora berupaya menggeser paradigma pembangunan olahraga Indonesia — dari sekadar mengejar medali menjadi membangun sistem yang berkelanjutan.
Jika konsistensi terjaga, 2026 bisa menjadi fondasi kuat menuju Indonesia yang lebih kompetitif di panggung olahraga dunia.
**Benksu





