Sportstourismindonesia – Bogor Maret 2026 Tidak semua kemenangan lahir dari permainan terbaik. Terkadang, justru di hari terburuk, karakter sebuah tim benar-benar terlihat.
Itulah yang dialami Bogor Hornbills saat menghadapi Hangtuah Jakarta.
Bermain di GOR Tangkas, Minggu (15/3), Hornbills tetap keluar sebagai pemenang dengan skor 83-77. Namun di balik angka tersebut, tersimpan evaluasi keras dari sang pelatih, Cesar Camara.
Alih-alih puas, Cesar justru menyebut laga itu sebagai performa terburuk timnya dalam tiga bulan terakhir.
“Pertandingan ini adalah yang terburuk, bahkan jika dibandingkan dengan masa pre-season. Tim bermain sangat buruk,” ujarnya tanpa basa-basi.
Menang Tanpa Ritme
Sejak awal laga, permainan Hornbills terlihat tidak mengalir. Eksekusi serangan kerap terburu-buru, sementara koordinasi antar pemain tidak berjalan optimal. Situasi ini memberi ruang bagi Hangtuah untuk terus menekan.
Namun, di tengah permainan yang jauh dari ideal, Hornbills menunjukkan satu hal yang tidak bisa dilatih dalam waktu singkat: mental bertanding.
Mereka tetap mampu menjaga keunggulan di momen krusial hingga peluit akhir berbunyi.
Lawan yang Tak Pernah Mudah
Di sisi lain, Cesar tak ragu memberikan kredit kepada lawan. Menurutnya, Hangtuah Jakarta adalah tim dengan kualitas yang tidak bisa diremehkan.
“Mereka punya pelatih yang hebat dan pemain berkualitas seperti Rakeem Christmas. Tidak pernah mudah menghadapi mereka,” katanya.
Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa kemenangan Hornbills bukan sekadar hasil dari kesalahan sendiri, melainkan juga karena tekanan nyata dari lawan yang tampil solid.
Alarm untuk Evaluasi
Kemenangan ini memang menjaga tren positif Hornbills, tetapi juga menjadi alarm keras bagi tim. Performa buruk yang tetap berujung kemenangan bisa menjadi pedang bermata dua—menutupi masalah yang sebenarnya perlu segera dibenahi.
Cesar pun tampaknya menyadari hal tersebut. Kritik tajamnya menjadi sinyal bahwa standar tim tidak boleh turun, bahkan ketika hasil akhir berpihak.
Bagi Hornbills, laga ini bukan tentang skor 83-77. Ini tentang bagaimana tim tetap berdiri saat permainan mereka runtuh—dan bagaimana mereka harus segera bangkit sebelum kelemahan itu benar-benar menghukum di pertandingan berikutnya.
**Benksu





