Sportstourism – JAKARTA 11 Juli 2026 Teater Koma kembali menghadirkan salah satu karya legendarisnya, Rumah Sakit Jiwa, setelah 35 tahun sejak pertama kali dipentaskan pada 1991. Pementasan yang menjadi produksi ke-237 Teater Koma ini akan digelar pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Kolaborasi antara Teater Koma dan Bakti Budaya Djarum Foundation ini tidak sekadar menghadirkan kembali sebuah pertunjukan klasik, tetapi juga mengajak publik merefleksikan berbagai persoalan sosial, relasi kuasa, dan kemanusiaan yang dinilai masih relevan hingga saat ini.

Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation, Billy Gamaliel, mengatakan teater tetap memiliki daya tarik tersendiri karena menghadirkan pengalaman yang tidak dapat digantikan oleh bentuk hiburan lain.
“Pertemuan langsung antara pemain dan penonton menciptakan pengalaman yang unik. Karena itu kami terus mendukung karya-karya seperti Rumah Sakit Jiwa yang bukan hanya kuat secara artistik, tetapi juga mengajak masyarakat merenungkan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Lakon karya N. Riantiarno ini mengisahkan dr. Rogusta, seorang dokter muda yang membawa pendekatan lebih humanis dalam menangani pasien di sebuah rumah sakit jiwa yang dipimpin Profesor Sidarita. Upaya perubahan tersebut justru memicu konflik dengan sistem yang telah lama mengakar serta pihak-pihak yang merasa kepentingannya terganggu.
Melalui cerita tersebut, penonton diajak mempertanyakan kondisi masyarakat saat ini, termasuk bagaimana sistem yang kaku kerap menghambat perubahan dan nilai-nilai kemanusiaan.

Sutradara Rangga Riantiarno menilai kekuatan Rumah Sakit Jiwa terletak pada pesan yang melampaui zamannya.
“Sejak dipentaskan pertama kali, lakon ini sebenarnya berbicara tentang manusia, bukan sekadar institusi. Karena itu relevansinya masih terasa hingga sekarang,” katanya.
Untuk menghadirkan karakter yang lebih autentik, para pemain menjalani observasi langsung ke rumah sakit jiwa serta berdiskusi dengan psikolog klinis dan psikiater. Pendekatan tersebut dilakukan agar para aktor memahami karakter secara mendalam dan mampu membangun empati di atas panggung.
Selain pendalaman karakter, aspek visual juga menjadi perhatian. Perancang busana Samuel Wattimena bersama Rima Ananda merancang kostum yang tidak hanya menggambarkan profesi tokoh, tetapi juga memperlihatkan perkembangan psikologis setiap karakter sepanjang cerita.
Menurut Samuel, setiap kostum dirancang melalui diskusi intensif dengan sutradara agar mampu mendukung alur cerita dan memudahkan penonton mengenali perubahan karakter.

Sementara itu, unsur musikal dalam pertunjukan dipercayakan kepada Fero A. Stefanus. Komposisi musik disusun mengikuti dinamika emosi setiap adegan sehingga memperkuat atmosfer pertunjukan.
Salah satu daya tarik pementasan kali ini adalah kembalinya Ratna Riantiarno memerankan dr. Rogusta, karakter yang pernah ia bawakan saat pementasan perdana 35 tahun lalu. Selain menjadi pemeran utama, Ratna juga bertindak sebagai produser.
Ia mengaku pengalaman hidup yang bertambah membuatnya menemukan sisi baru dari karakter Rogusta.
“Pementasan ini menjadi perjalanan emosional yang berbeda. Saya melihat Rogusta dengan perspektif yang lebih matang, sekaligus menyaksikan bagaimana seluruh tim bekerja penuh dedikasi untuk menghidupkan kembali karya ini,” ujarnya.
Rumah Sakit Jiwa akan dipentaskan pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 setiap pukul 19.30 WIB. Khusus Sabtu, 1 Agustus, pertunjukan digelar dua sesi, yakni pukul 13.30 WIB dan 19.30 WIB, sedangkan pada Minggu, 2 Agustus, pertunjukan berlangsung pukul 13.30 WIB.

Melalui pementasan ini, Teater Koma kembali menegaskan bahwa karya seni pertunjukan bukan hanya menjadi media hiburan, tetapi juga ruang refleksi untuk membaca kembali berbagai persoalan sosial yang masih terjadi hingga saat ini.
**Benksu





