Sportstourismindonesia – Jakarta Musisi legendaris Fariz RM kembali menyita perhatian publik, bukan lewat alunan nada atau lirik puitis yang dulu membesarkan namanya, melainkan langkah gontai menuju ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (4/8/2025), dalam lanjutan perkara dugaan penyalahgunaan narkotika.
Datang sekitar pukul 14.10 WIB, Fariz RM turun dari mobil tahanan dengan rompi oranye khas tahanan dan borgol yang melingkar di pergelangan tangan. Pengawalan ketat dari aparat tak mampu menyembunyikan sorotan publik yang masih sulit menerima kenyataan: sosok yang pernah memukau dengan lagu “Barcelona” dan “Sakura” kini menghadapi tuduhan serius yang dapat mencoreng lembar akhir karier musiknya.
Meski disambut oleh barisan awak media, Fariz memilih diam. Senyumnya tipis, nyaris simbolis. Tak ada pernyataan, hanya sorot mata sayu yang seolah berbicara banyak tentang beban yang dipikulnya. Pendamping hukumnya, Deolipa Yumara, yang dikenal vokal dalam berbagai kasus selebritas, juga belum memberikan tanggapan kepada media soal sidang hari ini.
Sidang yang berlangsung tertutup ini dijadwalkan menggelar agenda pembacaan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum. Sebelumnya, proses hukum sempat tertunda selama dua pekan. Kini, semua mata tertuju pada bagaimana proses ini akan berlanjut dan berakhir.
Keterlibatan Fariz RM dalam perkara narkoba bukan hanya menjadi ironi pribadi, tetapi juga menjadi refleksi kolektif tentang rentannya para seniman besar ketika lampu sorot panggung mulai meredup. Karier yang dulu bergemuruh dengan penghargaan, panggung megah, dan pengakuan lintas generasi, kini terhenti di balik jeruji dan meja hijau pengadilan.
Publik yang tumbuh bersama musik-musiknya kini terpecah antara rasa prihatin dan kecewa. Namun, di balik semua ini, kasus Fariz RM juga menjadi pengingat bahwa bahkan ikon pun manusia rentan jatuh, dan layak untuk ditolong, bukan hanya dihukum.
Saat sidang berlanjut dan vonis menanti, satu hal masih belum berubah: suara Fariz RM mungkin tak lagi terdengar di konser, tapi gaung kisahnya kini mengalun di ruang publik, sebagai elegi pahit dari seorang legenda yang tersandung realita.
**Benksu





