Sportstourismindonesia – Jakarta, 17 Agustus 2025 Suasana kemerdekaan terasa berbeda tahun ini. Balada rakyat penuh semangat perjuangan karya mendiang Leo Kristi kembali menggema lewat Konser Rakyat Leo Kristi (KRLK) yang digelar Kementerian Kebudayaan dalam rangka peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia.
Lebih dari sekadar konser musik, acara ini menghadirkan kembali jejak panjang perjalanan Leo Kristi sebagai musisi pengelana yang suaranya akrab dengan denyut kehidupan rakyat. Dari balada tentang cinta dan alam hingga kisah perjuangan bangsa, karya-karya Leo tetap hidup sebagai pengingat akan arti kemerdekaan.
Pameran foto yang membuka rangkaian acara menjadi titik refleksi, menampilkan dokumentasi perjalanan Leo Kristi sejak era 1970-an. Sastrawan Jose Rizal Manua juga memberi penghormatan khusus dengan membacakan puisi Salam dari Pelabuhan Hati, mempertegas Leo Kristi sebagai sosok yang merajut duka dan harapan rakyat lewat syair.

Puncak acara menampilkan grup KRLK yang membawakan lagu-lagu legendaris dari album Nyanyian Fajar, Nyanyian Tanah Merdeka, hingga Lintasan Hijau Hitam. Irama folk-country yang khas menghadirkan kembali aura orisinal sang legenda, sekaligus membawa penonton larut dalam suasana patriotik.
“Setiap karya Leo Kristi selalu relevan. Ia menulis tentang rakyat, perjuangan, dan tanah air dengan kejujuran,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang menutup acara dengan menyerahkan plakat penghargaan kepada grup KRLK.
Leo Kristi, dengan nama asli Leo Imam Sukarno, pernah berkolaborasi bersama Gombloh dan Franky Sahilatua sebelum mendirikan kelompok Konser Rakyat Leo Kristi. Warisannya kini menjadi bagian penting dari sejarah musik Indonesia, sekaligus pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya simbol, melainkan semangat solidaritas dan cinta tanah air.
Konser Rakyat Leo Kristi kali ini menjadi bukti bahwa karya seni dapat melampaui generasi, terus hidup dalam ingatan kolektif, dan menjadi penopang jati diri bangsa.
**Benksu





