Sportstourismindonesia – Sorong. Lapangan apel Mako Pasmar 3, Kesatrian Marinir Agoes Soebekti, Kota Sorong, Minggu (30/11/2025) berubah menjadi gelanggang milik rakyat. Indo Marines Run 2025 tak hanya mencatat ribuan langkah pelari, tetapi juga ribuan transaksi pelaku UMKM, ribuan swafoto keluarga, dan ribuan teriakan dukungan warga yang sejak pagi memadati kawasan Jl. Sorong–Klamono Km.16, Distrik Klaurung, Papua Barat Daya.
Berbeda dari peringatan HUT Korps Marinir pada tahun-tahun sebelumnya, denyut acara justru paling kuat terasa dari luar barisan start. Jalanan kesatrian dipagari antusiasme warga yang datang bukan sebagai penonton pasif, melainkan pengisi energi utama acara: menyemangati, berjualan, menari, memotret, bahkan berdiskusi langsung dengan prajurit yang bertugas di stan pameran.

Pagi di Sorong dimulai dengan pemandangan yang jarang terlihat di markas militer: barisan keluarga dan anak muda antre di bazar UMKM, aroma kopi Papua, jajanan lokal, kerajinan, hingga kain khas Timur mendominasi suasana. Di banyak sudut, komunitas lari dan anak sekolah tampak bercampur dengan personel Marinir, mempersiapkan diri mengikuti berbagai kategori mulai dari fun run hingga kompetisi yang menantang daya tahan.
Indo Marines Run 2025 juga menjadi panggung kebanggaan warga terhadap identitas lokal. Di sepanjang rute internal kesatrian, pelari tak hanya disuguhi medan menantang, tetapi juga irama dukungan dari warga, deru musik khas Timur, dan panorama alam Papua yang membingkai pengalaman berlari.

Komandan Pasmar 3, Mayjen TNI (Mar) Andi Rahmat M., menilai keberhasilan kegiatan ini justru terletak pada kuatnya partisipasi publik.
“Hari ini bukan hanya Marinir yang mengundang masyarakat, tetapi masyarakat Sorong yang memberi ruh pada acara ini. Mereka tuan rumahnya,” ujar Andi Rahmat.
Di sisi lain, pameran alutsista dan kendaraan tempur seperti Tank PT-76, BTR-50, hingga kendaraan taktis ATAV di area photobooth, diposisikan panitia bukan untuk unjuk kekuatan, melainkan ruang interaksi edukatif. Anak-anak dan pelari muda bebas menyentuh, bertanya, dan berfoto di dekat kendaraan pertahanan berteknologi tinggi itu, menandai pendekatan baru pameran militer yang ramah keluarga.
Panggung hiburan rakyat yang memainkan lagu Tobola Bale memperlihatkan bahwa Indo Marines Run bukan hanya perayaan olahraga, tetapi etalase budaya Timur yang hidup, di mana kegembiraan menjadi bahasa yang paling mudah dipahami siapa pun.
Panitia juga sengaja menggulirkan undian doorprize dan hadiah utama di sela acara, bukan sekadar pemikat animo, tetapi bagian dari upaya menjadikan event milestone kebahagiaan kolektif tahunan warga Sorong.

Event ditutup dengan harapan agar Indo Marines Run ke depan menjadi festival tahunan pesisir Timur yang tidak hanya menumbuhkan kebugaran, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi lokal, memperkuat kebanggaan budaya, dan menjaga kedekatan TNI–rakyat tanpa jarak simbolik.
Karena di Sorong, hari itu, yang paling lantang bukan aba-aba start, melainkan: suara kebersamaan milik warga Papua Barat Daya.
**Benksu





