Aconcagua: Ketika Pendaki Indonesia Menguji Batas Ambisi dan Kebijaksanaan

Sportstourismindonesia – Februari 2026 Di dunia sport petualangan, puncak sering dipahami sebagai garis akhir. Namun di lereng Gunung Aconcagua, para pendaki Indonesia belajar bahwa makna kemenangan tak selalu berdiri di titik tertinggi.

Gunung setinggi 6.961 mdpl di Argentina itu menjadi saksi dua momentum berbeda dalam sejarah pendakian Merah Putih — terpisah 24 tahun, tetapi terhubung oleh satu pertanyaan yang sama: sampai di mana ambisi harus dibawa?

2016: Menaklukkan Ego di 6.650 Meter

Awal Maret 2016, Tim Ekspedisi Indonesia Raya berada di ketinggian 6.650 meter. Puncak sudah terlihat. Secara teknis, jarak sekitar 300 meter bukan hal mustahil.

Di barisan terdepan berdiri Sabar Gorky, pendaki tunadaksa dengan satu kaki, didampingi prajurit elit Denjaka dan Taifib Korps Marinir di bawah komando Letkol (Mar) Rivelson Saragih. Ekspedisi ini bukan sekadar misi olahraga, tetapi simbol daya juang dan inklusivitas.

Namun alam memberi sinyal berbeda. Awan cumulonimbus menggumpal, pertanda badai akan datang. Di ketinggian ekstrem, keputusan terlambat beberapa menit bisa berarti nyawa.

Sebagai manajer pendakian, Dar Edi Yoga mengambil keputusan yang secara emosional berat: turun. Ia berkoordinasi dengan Komandan Korps Marinir saat itu, Buyung Lalana, serta sponsor ekspedisi dari Artha Graha Peduli. Biaya besar, persiapan panjang, dan ambisi nasional berada di ujung 300 meter terakhir itu.

Namun prinsipnya tunggal: semua harus pulang.

Tim memilih mengalahkan ego, bukan memaksa puncak. Mereka turun bersama. Tak ada yang ditinggalkan. Keputusan itu kemudian dihormati banyak pihak, termasuk Atase Pertahanan RI untuk Brasil dan Argentina saat itu, Kolonel Budhi Achmadi, yang datang menyambut kepulangan tim.

Dalam dunia mountaineering modern, keputusan tersebut dipandang sebagai standar emas manajemen risiko: summit is optional, return is mandatory.

 

1992: Idealime yang Membeku di Lereng Andes

Dua puluh empat tahun sebelumnya, kisah berbeda tertulis di gunung yang sama.

Tahun 1992, tim Mapala Universitas Indonesia dipimpin legenda pendakian Indonesia, Norman Edwin, menapaki jalur ekstrem Gletser Polandia. Setelah menyelamatkan rekan yang cedera—bahkan harus kehilangan jari akibat frostbite—Norman bersama Didiek Samsu tetap melanjutkan upaya menuju puncak lewat rute normal.
Lalu badai El Viento Blanco datang.

Whiteout menutup pandangan. Suhu jatuh ke titik mematikan. Di ketinggian sekitar 6.400 mdpl, Didiek ditemukan gugur. Beberapa hari kemudian, Norman ditemukan tak jauh dari sana, hanya ratusan meter dari puncak. Kapak es masih tergenggam. Bendera Merah Putih tersimpan di ransel.

Ia tidak berbalik.
Tragedi itu mengguncang dunia petualangan Indonesia. Namun dari sana lahir warisan keberanian, loyalitas, dan dedikasi yang melampaui batas fisik manusia.

Dua Era, Dua Filosofi Pendakian

Jika 1992 merepresentasikan romantisme eksplorasi — keberanian menantang batas hingga titik terakhir — maka 2016 mencerminkan evolusi sport petualangan yang lebih matang: kalkulatif, kolektif, dan berorientasi keselamatan.
Keduanya sama-sama lahir dari semangat yang tulus. Bedanya, konteks dan pendekatan berubah seiring waktu.

Pendakian modern kini menempatkan manajemen risiko sebagai inti strategi. Bukan sekadar soal kuat atau nekat, tetapi soal membaca cuaca, memahami fisiologi tubuh di ketinggian, dan berani mengambil keputusan tak populer.

Aconcagua mengajarkan Indonesia bahwa puncak geografis hanyalah satu dimensi. Dimensi lainnya adalah puncak moral: kapan harus terus melangkah, dan kapan harus berhenti.

Kemenangan yang Sesungguhnya

Dalam sport petualangan, medali tidak selalu berupa logam. Kadang ia berupa keputusan.
Pada 1992, Indonesia belajar tentang keberanian yang nyaris tanpa batas.
Pada 2016, Indonesia belajar tentang kebijaksanaan yang menyelamatkan batas itu.

Dari lereng Andes, satu pesan bergema untuk generasi pendaki berikutnya:
Kemenangan terbesar bukanlah berdiri di puncak gunung, melainkan mampu menaklukkan diri sendiri.

***

Sports Tourism Indonesia