Sportstourism, Jakarta, 1 November 2026 – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong pengembangan paket wisata tematik berbasis gastronomi, sejarah budaya, dan mindfulness di Yogyakarta dan kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Upaya ini dilakukan dengan melibatkan 10 operator tur dan agen perjalanan (TA/TO) melalui program familiarization trip (famtrip).
Program tersebut diarahkan untuk mendorong lahirnya produk wisata baru yang memiliki nilai tambah, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta meningkatkan belanja wisata di daerah.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan, pengembangan paket wisata tematik merupakan respons terhadap perubahan tren perjalanan wisatawan nusantara yang mulai mengarah pada pengalaman lebih personal dan bermakna.
Menurut Made, wisatawan, khususnya segmen menengah atas dari Jabodetabek, semakin tertarik pada perjalanan yang menawarkan pengalaman autentik, ketenangan, serta kesempatan mengenal sejarah dan budaya lokal.
“Tren wisatawan nusantara, khususnya segmen menengah ke atas dari wilayah Jabodetabek, kini tidak lagi sekadar mencari destinasi untuk berfoto, melainkan pengalaman mendalam yang memberikan ketenangan jiwa dan narasi sejarah yang kuat,” ujar Made dalam keterangannya, Kamis (29/10/2026).

Melalui famtrip bertajuk Harmoni Raga, Rasa, dan Tradisi, Kemenpar mempertemukan 10 perwakilan biro perjalanan dan asosiasi pariwisata dengan pengelola atraksi wisata lokal. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ajang penjajakan kerja sama bisnis atau business-to-business (B2B) untuk mengembangkan paket wisata yang siap dipasarkan.
Peserta berasal dari sejumlah organisasi industri perjalanan, di antaranya Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI), Aliansi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (AITTA), Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO), dan Asosiasi Kembali Berwisata Indonesia (KEMBERIN).
Kemenpar menargetkan kegiatan tersebut menghasilkan paket wisata komersial baru, baik dalam format open trip maupun perjalanan privat (private group). Paket-paket tersebut diharapkan dapat memperkuat daya tarik Yogyakarta dan Borobudur sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
Selama lima hari empat malam, pada 16–20 Oktober 2026, peserta mengikuti berbagai aktivitas yang menggabungkan pengalaman kuliner, sejarah, budaya, dan kebugaran.
Salah satu agenda yang ditawarkan adalah Telusur Kampung Santan Spesial Ingkung di Bantul bersama Dje Djak Rasa. Dalam kegiatan ini, peserta mengenal kuliner ayam ingkung sekaligus menelusuri cerita dan tradisi di balik resep masakan tersebut.
Pengalaman gastronomi dilanjutkan melalui Senja Gastronomy Walking Tour: Telusur Tugu & Pecinan. Peserta diajak mengenal akulturasi budaya dan mencicipi beragam jajanan lokal melalui perjalanan menyusuri kawasan kota.
Dari sisi sejarah dan budaya, peserta mengikuti perjalanan bertajuk Tiga Wajah Mataram bersama Remen Jawi. Agenda lainnya meliputi pengalaman meracik teh personalisasi di Sadahurip, menjelajahi Kampung Wisata Purbayan, serta menikmati hidangan gastronomi etnik di Dapur Alit Jogja.
Rangkaian famtrip ditutup dengan sesi meditasi berkesadaran (mindfulness) bersama Selaras Jiwo Journey yang memadukan relaksasi dan penuturan kisah budaya (storytelling).
Made juga menilai wisata jalan kaki (walking tour) berpotensi menjadi produk unggulan dalam pengembangan pariwisata berbasis pengalaman. Melalui konsep tersebut, wisatawan dapat mengenal destinasi lebih dekat, berinteraksi dengan masyarakat, serta menikmati kekayaan kuliner dan sejarah setempat.

“Melalui jalan kaki, wisatawan tidak hanya melintasi ruang kota, tetapi dapat berinteraksi langsung dengan warga lokal, menghirup suasana kampung, serta meresapi cerita sejarah dan kuliner secara autentik di setiap sudut yang dikunjungi,” katanya.
Kemenpar berharap, setelah mengikuti famtrip, para peserta memiliki komitmen untuk menyusun dan memasarkan sedikitnya dua paket wisata tematik baru.
Inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya Kemenpar mendukung target 1,18 miliar perjalanan wisatawan nusantara pada 2026 melalui pengembangan produk wisata berkualitas, peningkatan aktivitas ekonomi lokal, dan penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan.
**Benksu




