Sportstourismindonesia – JAKARTA April 2026 Regenerasi sektor tunggal putri Indonesia mulai menampakkan wajah barunya. Di tengah komposisi tim Uber Indonesia 2026, hadir dua nama muda yang mencuri perhatian: Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi dan Thalita Ramadhani Wiryawan.
Bukan sekadar pelengkap skuad, keduanya datang membawa warna baru untuk tim putri Indonesia. Masih muda, minim pengalaman di panggung beregu sebesar Piala Uber, tetapi justru menyimpan satu modal penting: keberanian untuk menantang tekanan.
Piala Uber 2026 menjadi panggung debut bagi Dhinda dan Thalita. Untuk dua pebulutangkis muda yang baru pertama kali merasakan atmosfer kejuaraan beregu paling prestisius di dunia, kesempatan ini bukan hanya soal tampil, tetapi tentang menandai lahirnya generasi baru tunggal putri Indonesia.Dhinda menyambut kesempatan itu dengan antusiasme besar. Terpilih sebagai bagian dari tim Uber disebutnya sebagai kebanggaan sekaligus momentum berharga dalam perjalanan kariernya.
“Pasti senang banget karena bisa terpilih untuk menjadi perwakilan tunggal putri untuk Uber. Dan pasti excited juga sih,” ujar Dhinda dalam keterangan resmi PBSI, Selasa (21/4/2026).
Sementara bagi Thalita Ramadhani Wiryawan, panggung Uber 2026 menjadi pengalaman yang lebih spesial. Di usia yang baru 18 tahun, ia menjadi pemain termuda dalam skuad Indonesia. Status itu tak ia jadikan tekanan, melainkan motivasi untuk menikmati setiap proses.
“Saya di sini menjadi anggota termuda dan rasanya excited. Tidak mau dijadikan beban dan mau mencoba enjoy,” kata Thalita.
Kehadiran dua debutan ini menjadi sinyal bahwa regenerasi tim putri Indonesia berjalan. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor tunggal putri terus mencari bentuk terbaiknya, dan Uber 2026 kini menjadi ruang pembuktian bagi generasi berikutnya.
Meski baru pertama kali mencicipi atmosfer Piala Uber, Dhinda dan Thalita tak datang sendirian. Di dalam tim, keduanya mendapat dukungan penuh dari para pemain senior yang menciptakan suasana hangat dan terbuka.
Alih-alih membangun sekat antara senior dan junior, skuad Uber Indonesia justru menghadirkan ruang yang cair—tempat pengalaman dibagikan, kepercayaan dibangun, dan chemistry tim diperkuat.
“Pasti kakak-kakak saya ngasih support penuh buat saya, apapun itu saya terus didukung. Kami juga terus membaur, menyatu komunikasi dan chemistry-nya dan tidak ada gap,” ujar Thalita.
Hal serupa dirasakan Dhinda. Menurutnya, komunikasi yang terbuka membuat para pemain muda bisa beradaptasi lebih cepat di dalam tim.
“Setiap hari kami selalu ada sharing dan ngobrol. Kakak-kakak di sini berusaha bikin tim nyaman dan terbuka satu sama lain,” tutur Dhinda.
Bagi dua pemain muda ini, Piala Uber bukan sekadar turnamen beregu. Ini adalah panggung belajar, tempat mereka menyerap pengalaman, membangun mental, sekaligus mengukur diri di level tertinggi. Namun di balik status debutan, keduanya datang bukan tanpa mimpi.
Dhinda dan Thalita membawa inspirasi yang sama: perjuangan tim Uber Indonesia saat menembus final Piala Uber 2024. Dua tahun lalu, mereka menyaksikan perjuangan itu dari layar televisi. Kini, keduanya berdiri di dalam tim yang sama, dengan peluang untuk menulis kisahnya sendiri.
“Dua tahun lalu saya nonton di TV dan itu keren banget perjuangannya. Saya juga ingin merasakan momen seperti itu, jadi mau menyumbang poin untuk Indonesia bila diturunkan dan membawa tim Uber Indonesia melangkah sejauh mungkin,” ujar Dhinda.
Dari penonton menjadi bagian dari perjuangan. Dari penikmat sorak sorai menjadi pelaku di tengah tekanan.
Uber 2026 bukan hanya tentang perebutan gelar bagi Indonesia. Di dalamnya, ada cerita tentang lahirnya generasi baru—dua srikandi muda yang kini bersiap mengubah rasa kagum menjadi pembuktian.
**Benksu





