Jelang Thomas-Uber 2026, Tim Indonesia Mulai Baca Karakter Arena Horsens

Sportstourismindonesia – JAKARTA April 2026 Bagi tim bulutangkis Indonesia, latihan resmi jelang Piala Thomas dan Uber 2026 bukan sekadar sesi pemanasan. Di Forum Horsens, Rabu (22/4/2026), skuad Merah Putih memulai satu misi penting: membaca karakter arena, mengukur arah angin, dan menyesuaikan tempo permainan sebelum perang sesungguhnya dimulai.

Di kejuaraan beregu paling prestisius dunia itu, detail kecil bisa menentukan hasil besar. Karena itu, 90 menit latihan resmi di arena pertandingan dimanfaatkan maksimal oleh tim Indonesia untuk “berkenalan” lebih dekat dengan lapangan yang akan menjadi panggung pertarungan mulai 24 April mendatang.

Selama 60 menit di lapangan tiga dan 30 menit di lapangan dua, para pemain tak hanya memukul kok. Mereka memetakan kondisi arena—dari laju shuttlecock, pencahayaan, hingga atmosfer ruangan yang diyakini bakal jadi faktor penting sepanjang turnamen.

Bagi ganda putri Rachel Allessya Rose, sesi singkat itu cukup memberi gambaran awal soal karakter lapangan. Meski hanya mendapat jatah sekitar 20 menit, Rachel langsung menangkap satu detail penting: laju kok terasa lebih cepat dari biasanya.

“Hari ini coba lapangannya memang sebentar, kami dapat sekitar 20 menit. Jadi lebih fokus melihat kondisi lapangan seperti apa. Bolanya agak kencang, itu yang harus cepat disesuaikan,” ujar Rachel.

Adaptasi cepat menjadi kunci. Dalam turnamen sekelas Thomas dan Uber, perubahan kecil pada kecepatan kok bisa mengubah ritme permainan secara signifikan—terutama bagi sektor ganda yang mengandalkan kecepatan transisi dan presisi pukulan.

Pasangan Rachel, Febi Setianingrum, menangkap kesan berbeda. Menurutnya, pencahayaan arena cukup bersahabat dan kondisi lapangan cenderung netral.

“Lapangan cukup normal, tidak terlalu silau. Untuk angin juga tidak terlalu terasa, jadi sejauh ini cukup nyaman,” kata Febi.

Namun justru dari ukuran arena yang tak terlalu besar, pasangan ini melihat peluang tersendiri. Forum Horsens mungkin tidak megah, tetapi atmosfernya diyakini bisa menghadirkan energi besar—terutama saat tribune dipenuhi suporter.

“Arenanya memang kecil, tapi itu bisa jadi keuntungan juga. Dukungan suporter pasti akan terasa lebih dekat dan suaranya bisa lebih membakar semangat,” ucap Rachel.

Sudut pandang serupa datang dari Anthony Sinisuka Ginting. Tunggal putra andalan Indonesia itu menilai proses adaptasi berjalan mulus.

Pengalaman tampil di Eropa, khususnya saat Piala Sudirman dan Thomas-Uber 2021, menjadi modal penting untuk mempercepat pembacaan kondisi arena.

**Benksu

Sports Tourism Indonesia