Festival Bacang Pantjoran PIK 2026 Angkat UMKM Bacang Nusantara, Lima Terbaik Tampil di Ajang Budaya Peh Cun

Sportstourism – Jakarta  Festival Bacang Pantjoran PIK 2026 tidak hanya menjadi perayaan budaya Peh Cun, tetapi juga menjadi panggung bagi pelaku UMKM kuliner untuk memperkenalkan kekayaan bacang Nusantara kepada masyarakat. Festival yang berlangsung pada 19–21 Juni 2026 menghadirkan kompetisi bacang, aktivitas budaya, hingga berbagai workshop yang dapat dinikmati seluruh anggota keluarga.

Salah satu fokus utama festival adalah Kompetisi Bacang yang diikuti 15 UMKM dari berbagai daerah di Indonesia. Ajang ini menjadi wadah untuk menampilkan keberagaman cita rasa bacang hasil akulturasi budaya Tionghoa dengan tradisi kuliner Nusantara sekaligus memperluas peluang promosi bagi pelaku usaha.

Dari kompetisi tersebut, terpilih lima UMKM terbaik, yakni Ang Huat Kembang Jaya, Bacang JJL, Hao Kitchen, Bacang Lotus, dan Bacang Oma Lili. Selama festival berlangsung, kelima pemenang membuka stan khusus di area depan Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI), sehingga pengunjung dapat mencicipi sekaligus mengenal kisah di balik usaha mereka.

Pilihan bacang yang ditawarkan pun beragam, mulai dari varian halal, non-halal hingga vegan, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Selain mencicipi produk, pengunjung juga berkesempatan berdialog langsung dengan para pelaku UMKM mengenai resep turun-temurun, inovasi produk, hingga upaya menjaga tradisi kuliner bacang.

Operational Manager Pantjoran PIK, Stephanus Adrianta, mengatakan Bacang Fest 2026 dirancang sebagai ruang yang mempertemukan budaya, komunitas, dan kreativitas.

Menurutnya, festival tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan bagi keluarga, tetapi juga membuka kesempatan bagi UMKM untuk memperkenalkan produk sekaligus membagikan cerita mengenai tradisi yang mereka lestarikan dari generasi ke generasi.

Selain bazar kuliner, festival juga menghadirkan berbagai kegiatan budaya, seperti Bacang Tasting, workshop kaligrafi Tionghoa, Bacang Treasures, serta Decorate Your Own Dragon Boat yang ditujukan bagi anak-anak dan keluarga.

Di area Galeri Budaya Tionghoa Indonesia, pengunjung dapat mengikuti sesi mencicipi bacang dari lima UMKM pemenang kompetisi ditemani sajian teh gratis. Seluruh program tersebut dapat diikuti oleh pemegang tiket masuk GBTI.

Kurator Galeri Budaya Tionghoa Indonesia, Mitha Budhyarto, mengatakan rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk mengenalkan tradisi Peh Cun melalui pendekatan yang lebih interaktif dan edukatif.

Ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat mengenal nilai budaya di balik tradisi Peh Cun sekaligus menikmati koleksi budaya yang dipamerkan di GBTI.

Festival Bacang Pantjoran PIK 2026 juga menjadi momentum untuk memperkenalkan makna budaya Peh Cun yang telah diwariskan selama lebih dari dua ribu tahun. Tradisi tersebut berasal dari penghormatan kepada Qu Yuan, seorang penyair dan negarawan Dinasti Chu, yang kemudian melahirkan tradisi menyantap bacang dan perlombaan perahu naga.

Melalui festival ini, Pantjoran PIK mengajak masyarakat melihat bacang bukan sekadar kuliner khas, melainkan simbol kebersamaan, warisan budaya, dan hasil akulturasi yang terus berkembang di Indonesia. Selain menikmati sajian kuliner, pengunjung juga disuguhi pertunjukan musik, tarot reading, palmistry, hingga berbagai aktivitas hiburan selama tiga hari penyelenggaraan.

**Benksu

Sports Tourism Indonesia