Sportstourism – Aceh, September 2026 — Kompetisi sepak bola usia muda di Aceh mulai menunjukkan potensi besar sebagai ruang lahirnya talenta yang dapat memperkuat prestasi daerah hingga level nasional. Hal itu terlihat dalam Open Turnamen Bola Kaki U18 Piala Ketua KONI Aceh di Simpang Keuramat, Aceh Utara, yang turut disaksikan langsung Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Letjen TNI Purn Marciano Norman.
Marciano hadir di tengah rangkaian kunjungannya meninjau pembinaan olahraga di Aceh. Sebelumnya, ia menutup Pacu Kuda dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Aceh Tengah. Dari Aceh Tengah, perhatian berlanjut ke sepak bola usia muda di Aceh Utara.
Dalam pertandingan babak delapan besar, Lhokseumawe FC menghadapi Akhyar GLD dari Pidie. Kedua tim tampil agresif dan saling memberikan tekanan sepanjang pertandingan. Namun, hingga waktu normal berakhir, tidak ada gol yang tercipta sehingga laga harus ditentukan melalui adu penalti.
Lhokseumawe FC yang mengenakan kostum biru putih akhirnya keluar sebagai pemenang melalui drama adu penalti. Hasil tersebut sekaligus membawa mereka melangkah lebih jauh dalam turnamen yang menjadi salah satu wadah kompetisi bagi pesepak bola muda Aceh.
Bagi Marciano, hasil pertandingan bukan satu-satunya hal yang menarik perhatian. Kualitas permainan dan semangat bertanding para pemain U18 justru menjadi indikator penting bahwa Aceh memiliki modal talenta yang layak terus dikembangkan.
“Saya melihat kedua tim bermain sangat baik, kualitas mereka terlihat pada usia muda. Semoga dari kejuaraan sepak bola ini lahir pemain sepak bola Aceh yang bertanding pada Pekan Olahraga Nasional (PON) dan bisa juga mereka bermain pada liga utama di Indonesia,” ujar Marciano.

Menurutnya, kompetisi kelompok usia seperti Piala Ketua KONI Aceh memiliki arti strategis karena memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding sekaligus mengukur kemampuan mereka dalam situasi kompetitif.
Marciano juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua Umum KONI Aceh, KONI Aceh Utara, PSSI Aceh, serta masyarakat yang ikut mendukung penyelenggaraan turnamen. Antusiasme penonton menunjukkan bahwa sepak bola memiliki tempat kuat di tengah masyarakat Aceh.
Besarnya animo tersebut juga menjadi dorongan agar pengembangan olahraga di Aceh diikuti dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarana. Marciano mendorong pemerintah daerah bersama legislatif memberikan perhatian terhadap pembangunan fasilitas sepak bola yang lebih representatif.
Menurutnya, fasilitas olahraga tidak hanya dibutuhkan untuk mencetak atlet berprestasi, tetapi juga menjadi ruang aktivitas positif bagi masyarakat. Terlebih, olahraga memiliki fungsi sosial yang lebih luas sebagai sarana hiburan dan membangun kembali semangat masyarakat.
Di tengah kondisi masyarakat Aceh yang baru menghadapi berbagai cobaan, pertandingan olahraga dinilai dapat menjadi bagian dari proses trauma healing. Kehadiran kompetisi dan antusiasme masyarakat di lapangan menjadi energi positif untuk kembali membangun optimisme.

Marciano pun berharap masyarakat Aceh dapat segera bangkit dan menjadikan olahraga sebagai salah satu kekuatan untuk membangun generasi muda sekaligus mengangkat prestasi daerah.
Dari lapangan sepak bola U18 di Aceh Utara, pesan yang muncul bukan sekadar tentang siapa yang memenangkan pertandingan. Lebih jauh, turnamen tersebut menjadi panggung untuk melihat bagaimana talenta-talenta muda Aceh dipersiapkan agar kelak mampu tampil di PON, kompetisi nasional, bahkan menembus kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
***





