Dies Natalis ke-46 UTP Surakarta, Kampus Didorong Jadi Ruang Hidup Kebudayaan

Sportstourism – Surakarta, 27 Agustus 2026 — Kampus tidak lagi cukup dipandang sebagai ruang untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Di tengah derasnya perubahan zaman, perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam menjaga ingatan kolektif, merawat tradisi, sekaligus menanamkan nilai kebangsaan kepada generasi muda.

Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian Dies Natalis ke-46 Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta. Dalam kesempatan itu, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyampaikan pidato kebudayaan yang menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas dalam pemajuan kebudayaan.

Menurut Fadli, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar dan menjadi salah satu episentrum peradaban dunia. Potensi tersebut tidak hanya perlu dilestarikan, tetapi juga harus dihidupkan kembali melalui pendidikan, inovasi, dan keterlibatan generasi muda.

Karena itu, UTP dinilai memiliki posisi strategis untuk berkembang bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai pusat preservasi kearifan lokal dan ruang inovasi yang berangkat dari identitas bangsa.

“Kementerian Kebudayaan memang harus bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, civitas akademika di perguruan tinggi, hingga komunitas budaya dan padepokan,” ujar Fadli.

Dari Kampus ke Situs Warisan

Kolaborasi UTP dengan Kementerian Kebudayaan selama ini tidak berhenti pada kegiatan akademik. Dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik UTP telah terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian warisan budaya, mulai dari pemugaran candi, penataan museum, restorasi keraton, hingga pengujian material bangunan bersejarah seperti bata kuno.

Keterlibatan tersebut menjadi contoh bagaimana ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga warisan budaya. Keahlian akademik digunakan untuk membantu memastikan kondisi situs bersejarah tetap terjaga, sekaligus mendukung proses konservasi dan pendokumentasian.

Fadli pun mengapresiasi kontribusi UTP yang dinilai konsisten menyiapkan sumber daya manusia sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, baik dengan dosen maupun mahasiswa dalam berbagai kegiatan pemugaran dan revitalisasi bangunan keraton serta candi, sangat kami hargai,” katanya.

 

Menghidupkan Kembali Permainan Rakyat

Upaya pelestarian budaya di UTP juga menyentuh ranah budaya takbenda. Salah satunya melalui inisiatif GOARA atau Gabungan Olahraga Tradisional Indonesia.

Program tersebut berupaya memperkenalkan kembali berbagai permainan rakyat Nusantara kepada masyarakat dan generasi muda, seperti egrang, balap karung, lompat tali, dan sunda manda.

Langkah ini menjadi penting karena pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan melalui museum atau situs bersejarah. Permainan tradisional yang kembali dimainkan di tengah masyarakat juga menjadi bagian dari upaya menjaga pengetahuan dan kebiasaan yang diwariskan antargenerasi.

Rektor UTP Surakarta Winarti mengatakan kampusnya memiliki komitmen untuk terus mewarisi nilai luhur Tri Ciri Tentara Pelajar, yaitu patriotisme, kepeloporan, dan kemandirian.

Nilai tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari karakter pendidikan di UTP sekaligus landasan untuk membentuk generasi penerus yang memiliki kepedulian terhadap bangsa dan budayanya.

Ke depan, kerja sama UTP dengan Kementerian Kebudayaan akan diperluas dengan melibatkan lebih banyak bidang keilmuan, termasuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Pertanian, serta FKIP.

Dengan demikian, kebudayaan tidak hanya ditempatkan sebagai objek yang harus dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari berbagai disiplin ilmu dan kehidupan masyarakat.

Kebudayaan sebagai Modal Pembangunan

Dalam pidatonya, Fadli juga mengingatkan bahwa kebudayaan memiliki nilai strategis bagi pembangunan. Menurutnya, ketika masyarakat semakin mengenal dan mencintai budayanya, nilai-nilai seperti gotong royong, kejujuran, kebersihan, dan kerja sama dapat semakin terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari.

“Kebudayaan akan menjadi modal yang sangat penting untuk akselerasi ekonomi budaya kita dan juga pemajuan budaya kita,” kata Fadli.

Pandangan tersebut menempatkan kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sebagai kekuatan yang dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masa kini dan masa depan.

Kehadiran Wali Kota Surakarta Respati Ardianto dalam rangkaian Dies Natalis UTP ke-46 turut memperlihatkan pentingnya keterhubungan antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam membangun ekosistem kebudayaan di Kota Surakarta.

Selain Respati dan Winarti, acara tersebut dihadiri Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Tunas Pembangunan Indonesia Leni Pramesti. Menteri Kebudayaan juga didampingi sejumlah pejabat Kementerian Kebudayaan, antara lain Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda, Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya Basuki Teguh Yuwono, Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual I Made Dharma Suteja, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah Riris Purbasari.

Momentum Dies Natalis ke-46 UTP akhirnya tidak hanya menjadi perayaan perjalanan institusi pendidikan, tetapi juga ruang untuk mempertegas kembali hubungan antara pendidikan, kebudayaan, dan pembangunan karakter.

Melalui sinergi pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, dan generasi muda, kebudayaan diharapkan tidak berhenti sebagai warisan yang disimpan, tetapi terus menjadi kekuatan kreatif yang hidup, berkembang, dan relevan dengan perubahan zaman.

**Benksu

Sports Tourism Indonesia