Sportstourism – Jakarta, 3 Agustus 2026 – Ambisi membawa Indonesia tampil di Piala Dunia 2030 tidak dibangun melalui mimpi besar semata. Bagi Ketua Umum PSSI Erick Thohir, target tersebut hanya dapat dicapai jika sepak bola Indonesia memiliki fondasi yang kokoh, mulai dari pembinaan usia dini, peningkatan kualitas sumber daya manusia, kompetisi yang sehat, hingga tata kelola organisasi yang profesional.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Kongres Biasa PSSI 2026 di Jakarta, Senin (3/8). Di hadapan peserta kongres, Erick menegaskan bahwa sepak bola telah menjadi bagian dari identitas bangsa yang harus dibangun secara berkelanjutan.
“Sepak bola bukan sekadar olahraga. Ini adalah kehormatan bangsa, karakter bangsa, sekaligus perekat persatuan. Karena itu, transformasi yang kita lakukan harus dijaga bersama,” ujar Erick.

Menurutnya, perubahan yang dilakukan PSSI selama beberapa tahun terakhir mulai mendapat pengakuan internasional. AFF, AFC, hingga FIFA disebut memberikan apresiasi terhadap langkah reformasi yang dijalankan Indonesia, baik dalam aspek kompetisi maupun tata kelola organisasi.
Namun, Erick menilai ukuran keberhasilan tidak cukup hanya dilihat dari prestasi tim nasional. Yang jauh lebih penting adalah memastikan ekosistem sepak bola nasional mampu terus melahirkan pemain, pelatih, dan wasit berkualitas dalam jangka panjang.
Karena itu, pengembangan sumber daya manusia menjadi prioritas utama. PSSI mencatat jumlah wasit bersertifikat meningkat dari sekitar 7.000 menjadi 23.000 orang, sedangkan jumlah pelatih bertambah dari 12.814 menjadi 18.275 orang.
Meski mengalami lonjakan signifikan, Erick mengakui Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara maju di Asia. Ia pun mendorong agar pendidikan kepelatihan dan perwasitan dapat masuk ke lingkungan sekolah melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat maupun daerah.

Di sisi pembinaan pemain, Garuda Academy terus dikembangkan sebagai wadah mencetak talenta masa depan. Saat ini Indonesia memiliki sekitar 203 ribu pemain yang terdata dan lebih dari 1.450 Sekolah Sepak Bola (SSB). Jumlah tersebut dinilai masih harus terus diperluas agar pembinaan berlangsung lebih merata di seluruh daerah.
Transformasi juga menjangkau sepak bola putri. Setelah mencatat prestasi di level Asia Tenggara dan menembus peringkat ke-21 dunia, PSSI akan memulai Liga Putri pada Oktober 2026 dengan enam klub peserta sebagai langkah awal membangun kompetisi yang berkelanjutan.
Sementara itu, cabang futsal menunjukkan perkembangan yang tidak kalah menggembirakan. Gelar juara AFF 2024, medali emas SEA Games 2025, hingga posisi ke-14 dunia menjadi bukti bahwa investasi pembinaan mulai membuahkan hasil.
Tak hanya berbicara mengenai pembinaan, Erick juga menekankan pentingnya profesionalisme klub melalui penerapan club licensing, pembentukan National Dispute Resolution Chamber (NDRC), serta pembangunan fasilitas latihan yang memadai.
Ia bahkan menantang klub-klub Indonesia untuk lebih percaya diri tampil di panggung internasional dengan menghadapi klub-klub elite dunia.
“Kalau negara lain mampu mendatangkan klub-klub besar untuk bertanding melawan klub lokal, Indonesia juga harus berani. Kita jangan hanya menjadi penonton atau pasar sepak bola dunia, tetapi menjadi bagian dari persaingan itu,” tegasnya.

Bagi Erick, seluruh transformasi tersebut bermuara pada satu tujuan besar, yakni membawa Indonesia menjadi kekuatan baru sepak bola Asia dan tampil di Piala Dunia 2030. Kenaikan peringkat FIFA Indonesia dari posisi 151 ke 118 menjadi salah satu indikator bahwa arah pembangunan sepak bola nasional mulai menunjukkan hasil.
Meski perjalanan menuju target tersebut masih panjang, Erick optimistis langkah yang ditempuh saat ini telah berada di jalur yang benar. Dengan seluruh program yang kini memiliki indikator kinerja dan target yang terukur, PSSI ingin memastikan bahwa kebangkitan sepak bola Indonesia bukan sekadar euforia sesaat, melainkan sebuah transformasi yang berkelanjutan menuju pentas dunia.
**Benksu





