Sportstourism – Banda Aceh, 14 September 2026 – Pariwisata Aceh dinilai memiliki modal kuat untuk berkembang sebagai destinasi berkualitas dan berkelanjutan karena tidak hanya mengandalkan keindahan destinasi, tetapi juga kekuatan masyarakat, kekayaan budaya, sejarah, serta edukasi kebencanaan.
Hal tersebut terlihat dari kunjungan Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa ke sejumlah destinasi di Aceh, Minggu (13/9/2026). Wamenpar mengunjungi Desa Wisata Nusa atau Gampong Nusa di Kabupaten Aceh Besar, kemudian Museum Kapal PLTD Apung dan Museum Tsunami Aceh di Kota Banda Aceh.
Ketiga destinasi tersebut memperlihatkan karakter berbeda dalam pengembangan pariwisata, namun memiliki satu kesamaan, yakni menjadikan masyarakat, sejarah, dan pengetahuan sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Di Gampong Nusa, misalnya, masyarakat menjadi bagian penting dalam pengelolaan destinasi. Warga mengembangkan berbagai atraksi berbasis potensi lokal, mulai dari kuliner tradisional, kriya, seni budaya, hingga homestay.
Desa yang dikelilingi perbukitan dan persawahan tersebut juga merupakan salah satu dari 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.
Saat berada di Gampong Nusa, Wamenpar melihat langsung aktivitas masyarakat, termasuk proses pengolahan Sie Itek atau bebek kari khas Aceh yang menggunakan beragam rempah dan dimasak secara tradisional menggunakan beulangong atau kuali tanah liat.

Kunjungan tersebut juga mempertemukan Wamenpar dengan komunitas asal Malaysia, Jelajah Bakti Terpuji (JEBAT), yang tengah menikmati atraksi dan budaya masyarakat Gampong Nusa, termasuk pertunjukan tari Ratoh Jaroe.
Wamenpar menilai keterlibatan masyarakat menjadi fondasi penting agar pengembangan pariwisata memberikan manfaat langsung kepada warga tanpa menghilangkan identitas lokal.
“Desa Wisata Nusa adalah contoh konkret bagaimana daya tahan dan keterlibatan masyarakat lokal mampu menciptakan destinasi berkualitas dan berkelanjutan tanpa kehilangan identitas budayanya,” ujar Ni Luh Puspa.
Pengelola Desa Wisata Nusa, Nur, mengatakan masyarakat terus menggali potensi lokal untuk dikembangkan menjadi atraksi wisata. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kunjungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Sejarah Tsunami Jadi Aset Edukasi
Dari wisata berbasis masyarakat, Wamenpar kemudian melihat potensi wisata sejarah dan edukasi kebencanaan di Banda Aceh melalui Museum Kapal PLTD Apung dan Museum Tsunami Aceh.
Museum Kapal PLTD Apung menjadi salah satu pengingat kuat mengenai dahsyatnya tsunami yang melanda Aceh pada 2004. Kapal sepanjang 63 meter dengan berat sekitar 2.600 ton itu sebelumnya berada di Pelabuhan Ulee Lheue.
Saat tsunami terjadi, kapal tersebut terseret gelombang hingga sekitar lima kilometer ke daratan. Kini, keberadaan kapal di tengah permukiman menjadi bagian dari destinasi wisata sekaligus sarana pembelajaran mengenai bencana dan ketangguhan masyarakat Aceh.
Sementara itu, Museum Tsunami Aceh menghadirkan pengalaman edukatif dan reflektif melalui sejumlah ruang tematik. Di antaranya space of fear atau lorong tsunami yang menggambarkan suasana saat bencana terjadi, serta space of sorrow atau sumur doa yang memuat sekitar 3.600 nama korban.
Museum tersebut juga memiliki Jembatan Perdamaian yang dihiasi bendera berbagai negara sebagai simbol solidaritas dan bantuan internasional kepada Aceh setelah tsunami.
Selain itu, space of memory menyajikan dokumentasi foto dan informasi ilmiah mengenai tsunami melalui monitor interaktif.
Menurut Wamenpar, keberadaan kedua museum tersebut memperlihatkan bahwa sejarah bencana dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang memiliki nilai edukasi sekaligus pesan kemanusiaan.
“Wisata berbasis edukasi di Museum Kapal PLTD Apung dan Museum Tsunami Aceh ini begitu penting sebagai ruang untuk melakukan kontemplasi sekaligus membangun pemahaman pengunjung mengenai peristiwa bencana alam dan langkah-langkah mitigasinya,” kata Ni Luh Puspa.
Dorong Pariwisata Berkelanjutan
Wamenpar menilai kekuatan pariwisata Aceh tidak berhenti pada peningkatan jumlah kunjungan. Pengembangan destinasi harus mampu menjaga budaya, memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat, sekaligus meningkatkan pemahaman wisatawan terhadap sejarah dan lingkungan.
Karena itu, Kementerian Pariwisata mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, pengelola destinasi, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Setelah berkeliling ke tiga destinasi dan melihat langsung potensinya, saya melihat pariwisata Aceh memiliki kekuatan yang sangat besar. Dengan semangat kolaborasi bersama berbagai pihak, kita berharap dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, mengembangkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan, sekaligus menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat,” ujar Wamenpar.
Pengembangan Gampong Nusa, Museum Kapal PLTD Apung, dan Museum Tsunami Aceh menunjukkan bahwa pariwisata Aceh memiliki beragam produk yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan, mulai dari wisata berbasis masyarakat dan budaya hingga wisata sejarah serta edukasi kebencanaan.
**Benksu





